Friday, August 18, 2017

SECARI SELARIK : "BIJAK JADI MUSTAHIL, KUALAT JADI FAKTUAL"

"Terdiam di senja waktu menatap mimpi....
Seuntai kata meluputkan segenap asa..
Takan ada yang abadi
Ya.... 
Takakan ada yang abadi...
Datang dan berlalu bukanlah hal tabuh
Begitulah hukum siklus alam berlaku
Berat dan ikhlas hanyalah soal rasa dan penghayatan
Tetap fokus pada arti hidup yang sesungguhnya 
Agar jalan yang kita tempuh slalu kan terlihat.
Terlihat dan tak akan tersesat".


Entah dimana kebenaran berada. Perlahan hidupku semakin seram dan buram saja. Hari - hari kulalui semakin memunculkan banyak fersi dan warna, meski tak ada titik putih sedikitpun kutemukan dibalik ribuan warna itu. Tak ada selingan bisikan indah menyirami kepiluan yang kian mengendap.
Mereka menganggapku bagai setumpuk sampah dan kisah luarbiasa yang kini dijadikan stigma.
Bagi Mereka, hidupku ibarat kabut yang tak jelas haluanya. Hidupku hanyalah kepalsuan yang mencari jejak kemurnian hampa.
Andai Mereka bisa melihat kedalaman sumur tanpa dasar, tentulah suasana akan hening tanpa suara. Karena semua akan tahu kedalaman dan kebenaranya. Luputlah alasan tentang kebenaran sumur, hingga keheningan dan kepercayaan tanpa ocehan akan menjawab keadaan. 
Aakulah sumur yang tak beruntung, mereka melihatku namun tak menyelamiku dan mendengarku namun tak merasakan. 
Disanalah ribuan warna mengaburkan keputihan yang aku cari. Saat Mereka menyiksa mimpi - mimpi dan harapan ini, sedkitpun aku tak berusaha mencaci keadaan yang ber-ulah menodai semua warna. Bagiku, inilah hidup sebenarnya. Semua kulalui ibarat kepompong yang mungkin tak sadar bahwa semedi panjang membuatnya melihat seluruh Alam Semesta dengan mudah. Angkasa dan aroma bunga menjadi teman dan mainanya kelak. Ataukah aku tetap menjadi sebuah jawaban di kala dulu untuk mas ini. Masa disaat melihatku merekapun berlomba meramu tentang kebenaran sikap baik, dimana aku sebagai titik kontras utamanya. Tidakah seharusnya kebaikan mendapatkan harga dan nilainya dari keburukan itu sndiri....?. Ini bukan soal mencari kebenaran dan keburukan, aku sebatas menjalani hidup tanpa berusaha menggunakan waktu. Disaat baik buruk sering kudapati, disanalah aku meneliti seperti apakah manusia mengenal rasa. Penelitian yang kini menyadarkanku bahwa merasakan akan lebih beruntung ketimbang dirasakan. Kini akupun tahu bahwa rasa begitu membuat kehidupan ini berarti
Bagiku, tak sedikitpun perbedaan mencolok diantara mereka, hanya merekalah yang menciptakan semuanya. Segumpal daging dan rangkaian tulang yang sama, airmata yang sama, ekspresi bahagia yang sam, ekspresi kesedihan yang sama dan ekspresi rasa sakit yang sama. aku ikhlas berdosa jika sesekali terbesit niat maupun lisan dakwaan pada mereka ketika secerca mimpiku dicela dan dihina. Tak ada dendam disini, di tempat ini, masi seperti semula. Tak ada keraguan kutanam sedikitpun. Kuyakini semua cerita indah yang tuhan tuliskan untuku, termasuk keyakinanku bahwa tuhan takan meminta mereka membantunya dalam menilai manusia atau mendewakan diri atasku. 

jika seburuk itu adanya aku, lalu sebaik apa nasip yang kuhinggapi...??
andai kata aku tak ada dalam zona ini, apakah mereka kan tetap melihatku...??
Adakah kebaikan mampu berdiri tanpa keburukan...??

Tak usalah memandang waktu sebagai hal yang berarti, sebab hal itu kan mengajarkan penyesala dan tanpa sadar sesat dalam cinta keabadian yang samar - samar. 

Aku bukanlah bayi yang terus melihat gerak bibir yang tak pernah faham kata kata itu. lihatlah wajah dan bola mata yang memandangi keanehan sikapmu. Aku hanya melihat kebohongan yang jujur pada keadaan, aku melihat kemunafikan yang tulus, aku melihat kebodohan yang pintar, dan aku melihatmu pada diriku jika ku mau. Namun kau tak mau melihat dirimu padaku, sebab itulah aku tak menyalahkan keadaan saat kau sibuk menyalahkanku dan terus mencari kepuasan atas itu. Karna hariku, dan diriku tidak berpijak atas lisan dan dakwaan sejenisku.
*sekian*



     Mungkin rantai kata dan kalimat diatas agak kaku dan membingungkan ya..?
Jangan salah paham.... 
Itu sekedar pesan moral bagi siapapun yang membaca artikel ini, 
bahwa menyalahkan seseorang karena ulah dan tindakanya bukanlah pilihan bijak untuk manusia. 
Karna disetiap sikap dan perilaku orang lain, sedikitnya kitapun memiliki hal tersebut. Carilah dan teliti dengan runut lebih dulu. Saat kau harus menyalahkanya, lalu siapakah yang harus dia salahkan atas kedaan yang menimpanya...??
Pada dasarnya tak ada manusia yang menghianati cita - cita, namun cita - citalah yang terkadang tak berpihak padanya.

Salam Bijak.

Bram Barakatino.

No comments:

Post a Comment